Kamis, 28 Juli 2011

INVICTUS


(Victorian Poem, By William Ernest Hanley, Inspirational poem for Mandela)

Out of the night covers me,
Black as the pit from pole to pole,
I thank whatever gods may be for unconquerable soul.
In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud.
Under the bludgeoning of chance
My head is bloody,
but unbowed.
Beyond this place of wrath and tears
Looms but the horor of the shade,
And yet the menace of the year
Find, and shall find, me unafraid.
It matters not how strait the gate,
How charge with punishment the scroll,
I am the master of my fate:
I am the captain of my soul.
=========================================================================

INVICTUS - Versiku

(Terjemahan Puisi Invictus, Karya William Ernest Hanley, oleh Laily Agustina R)

Terlepas dari malam menyelimutiku,
Hitam memenuhi lorong dari ujung ke ujung
Aku berterimaksih, Tuhan membuat Jiwaku tak tertundukkan.
Ketika terjatuh, aku tidak merintih atau menangis keras.
Ketika dihantam keadaan,
Kepalaku berdarah, tapi aku tetap tidak tunduk.
Terbayang di luar sana, kemarahan dan air mata berlindung dari ketakutan
Dan tahun-tahun mengancam.
Temukan, temukan aku!
Aku tidak takut.
Karena soalnya bukan tentang bagaimana harus melewati gerbang ini,
Tapi bagaimana hukuman ini harus dijalani.
Aku adalah penguasa taqdirku.
Aku adalah pemimpin jiwaku.

**Puisi yang sangat menguatkan, dan pantas Mandella memilihnya sebagai inspirasi... :)

Larut malam di Yogyakarta, 11 Maret 2010 

................ (Belum ada Judul)

Karang hatimu tak juga pecah,
Oleh riak,
Oleh ombak,
Oleh gelombang,
Bahkan oleh Tsunami sekalipun!

Harus berapa tangis yang tumpah,
Untuk mengisi samudera air mata yang kau bentuk
Hingga air mata ini menjelma gelombang yang lebih besar dari tsunami,
Menerjang, dan meluluh lantakkan hatimu…

Berapa nyawa lagi harus dihembuskan,
Dari gunung keangkuhan yang kau bentuk,
Hingga nyawa-nyawa itu menyergapmu, mengeringkan kesombongan dari jiwamu
seperti awan panas mengeringkan jiwa-jiwa dari raganya…

Sudah habis tanah negeri ini untuk pekuburan:
Tempat mengubur jasad-jasad rakyatmu yang jelata,
Bersama sapi-sapi mereka yang mati terpanggang ataupun tenggelam,
Juga untuk mengubur mimpi-mimpi dan kebahagiaan.
Lalu di mana lagi kami harus tinggal melewatkan hari-hari kami?

to be continued....

Yogyakarta, 6 Nopember 2010

MENGUTUKI SEPI

 Aku mengutuki malam yang kau tinggalkan bersama sepi
Hanya kamar dan buku berserak
Tapi pikiran ini mengembara memburumu,
Dan tak pernah sampai..

Bukan menyerah, hanya lelah
Hingga aku diam, dan mengutuki kegelapan yang pernah kau datang di dalamnya
Aku diam,
Mengutuki sepinya,
Memanggil-manggilmu dengan lolongan semacam tangis serigala yang meratapi keputusasaanya kepada bulan…
Sambil mengais-ngais kenangan bersamamu yang telah ku kuburkan.

Aku hanya lelah, tapi belum menyerah
Masih sanggup ku telan sepi ini atas namamu..
Dan ku teguk kegelapan sebagai penguat jiwa,
Hingga habis malam ini,
Dan malam-malam selanjutnya…

Yogyakarta, 28 September 2010

BEBAS-kan!

Layaknya terperangkap dalam alur yang membosankan
Aku berontak, menentukan alurku sendiri.
Aku tak ingin berjalan, hanya karena harus
Aku tak mau diam, hanya karena wajib
Aku tak akan mengikutimu, karena aku bebas.

Yogyakarta, 4 Agustus 2009

GERIMIS

Bukan malam yang membuat dingin,
Bukan pula hujan yang membuat basah,
Namun kerinduan yang menerjemahkn keberadaan menjadi ketiadaan
Menggigilkan kita dalam diam,
Dan batin pun gerimis..

Yogyakarta, 26 Mei 2010, 20.20 WIB

*Setelah kau pergi.

111209, ETALASE

Kata-kata bertarung dalam benak.
Segala yg terlihat menjadi teka teki yg tak mudah dimengerti.
Manusia hanya menjadi boneka-boneka kehilangan nyawa.
Dunia seakan terpisah dlm ruang dan waktu yg tak bersekakat, karena tembok terbangun dg sendirinya
Dan hanya bisa menatap dr luar,
Seperti menikmati sebuah etalase.
Etalase keasingan yg kita bangun sendiri.

Surabaya, 11 Desember 2009

280209

Ada yg menyesakkan dada,
Karena malam telah berkhianat
Ada harapan2 yg patah,
Ada mimpi2 yg dibungkam,
Ada keinginan yg menguap,
tak bs ku jangkau dan tak mungkn digenggam.
Ada kesepian yg tumbuh membenalu,
Ada ksendirian yg merongrong integritas diri,
Ada rindu yg ditahan dan terendapkan,
Ada aku yg dikhianati!

Senyap,menggetarkn gendang telinga
Malam mencuri-curi masuk menembus jendela kamar,
membobol ksepian nurani
menemukanku sendiri menekuri arti kesepian.

Tak satu pun aku menemukan mu!

Surabaya, 28 Februari 2009